Ibarat hidup, ini adalah masa di mana kami akan mengisahkan hidup kami.
Kami ingat, waktu itu kami berada dalam sekoci Nuh yang ternyata tidak seberapa besar. Ia berkata untuk pergi menuju Utara, melawan arus dan badai yang menerpa kami. Kami membawa beberapa pasang diri kami, yang telah kami kumpulkan diam-diam sebelum air bah mencuci habis bumi ini. Di tengah jalan, kami kehilangan beberapa orang, sehingga membuat jumlah kami menjadi hanya genap.
Saat ini kami pun tetap genap.
Kami pergi ke pesisir-pesisir negeri-negeri baru. Sebelum kami mengingatnya, kami sudah berada dalam sebuah kapal pinisi yang menuju ke arah Timur. Beberapa dari kami begitu bersemangat untuk pergi, sehingga membawa alat-alat pancing sebagai perlengkapan kami. Sebagian dari kami lebih senang membawa kamera masing-masing untuk merekam segalanya yang terjadi dalam perjalanan kami.
Selama hidup kami, kami masih kesulitan menghitung berapa kaset dan memori yang telah kami habiskan. Kami tahu sampai akhir hayat kami, kami masih kesulitan berbenah. Kami berharap dalam kehidupan mendatang hal-hal ini dapat kami lewati dengan baik. Semoga karma kesleboran kami berakhir disini.
Ada satu masa di mana hari-hari itu adalah musim panen. Kami masih ingat dengan detail bagaimana pemandangan langit malam itu, dari sebuah halaman rumah yang lapang. Bagaimana seseorang dari kami mengorok dengan kencang malam itu. Bagaimana seseorang dari kami selalu ketinggalan handuknya dimana-mana. Bagaimana seseorang dari kami tidak pernah sanggup bangun pagi atau selalu tertidur dalam kendaraan macam apapun. Ya, kami mengingat semua detail itu dengan baik. dan beberapa lilin menyala juga menemani diri kami untuk terlelap.
Kami sudah mengelilingi pulau ini berkali-kali. Sudah sekian penginapan di mana kami berhenti untuk beristirahat. Sudah sekian macam kendaraan kami naiki denganĀ berbagai macam cara yang dapat kami pikirkan. Sudah sekian orang kami temui, berjabat tangan dan berpelukan. Bahkan beberapa sungguh-sungguh kami cintai dengan amat. Dan, ya, kami lelah.
Yang saat ini terlintas dalam pikiran kami adalah untuk tertidur lelap dalam pelukan-pelukan kekasih-kekasih kami. Sambil mendengarkan dongeng seribu satu malam dan kami tahu kami tidak akan tega membunuh Scheherazade, karena suara dan ceritanya terlalu indah. Dunia yang diciptakannya adalah mimpi yang menyenangkan. Walau terkadang kami juga tidak luput dari mimpi-mimpi buruk.
Mimpi terkadang menempatkan kami untuk berperang. Kami tidak terlalu suka mengangkat senjata namun jika sudah datang pada sebuah masa di mana kami harus mengangkatnya, kami tidak akan menurunkannya sampai darah penghabisan kami tumpah ke tanah. Kami melihat mimpi buruk itu berkali-kali. Di mana anak-anak kami terserak. Setelah adegan itu kami tidak sanggup menghitung berapa kali kami telah menangis ketika sedang tertidur. Berapa kali kami bangun dengan keringat dingin membasahi punggung kami sehingga menciptakan bau tak sedap pada ranjang-ranjang kami. Kami mengenang semua kemenangan kami dan mengingat semua kekalahan kami. Kami menanggung beban yang sebetulnya sama. Seperti pada suatu malam di mana kami menonton sebuah kartun tentang akhir perang dunia kedua dan di sana kami menangis sejadi-jadinya. Kami menjadi mengerti bahwa hampir semua orang membawa beban yang nyaris sama dengan kami. Karena membiarkan semua perang-perang di dunia ini terjadi. Karena berada dalam pihak manapun menjadi sama saja.
Seandainya saja kami dapat menyelinap dalam segala macam cerita silat. Kami akan mencari-cari gunung-gunung tertinggi untuk hilang dan tidak kembali. Semacam bertapa atau moksa. Namun kami tidak bisa mencegah apa yang datang untuk kami. Gunung Langit adalah Gunung Merapi yang meletus dan mengembalikan kami pada dunia sehari-hari kami. Dan satu-satunya yang dapat kami lakukan adalah tetap bergandeng tangan untuk menghadapinya.
Barangkali seperti membaca puisi di sebuah halaman tempat kawan. itu juga bisa berarti berbagi botol-botol minuman, dan memanggang ikan, jagung, pisang dan ubi. Atau mendaki gunung-gunung, melihat candi-candi dan menghitung usianya untuk mengukur rentang hidup kami. Pun, menyelam di pantai-pantai sepi akan orang, sambil mencari kerang dan duduk di karang-karang.
Di mana ada mula di situ ada akhir. Di mana ada perjumpaan di situ ada perpisahan. Ini mungkin adalah kata-kata terakhir kami di sini. Sebuah ruang yang telah kami ciptakan selama beberapa tahun terakhir, ruang bermain kami bersama. Sebuah kedatangan dan kepergian adalah sebuah proses kreatif kami semua.
Terimakasih atas segalanya.
Pimpro
Astrid Reza
*catatan pengantar editorial ON/OFF Edisi Proses Kreatif (edisi terakhir), Mei 2006




