sebuah catatan kecil dalam Proses Penerjemahan “Chronicle of The Death Foretold”
Saya mengenal Gabriel Garcia Marquez ketika saya masih bau kencur dan mulai membaca sastra dunia dari koleksi perpustakaan sekolah dan perpustakaan kota Perth. Lalu datang email-email dari Eka Kurniawan dan nama Marquez muncul dalam salah satu perbincangan kami. Itulah awal dari perkenalan saya dengan Marquez dan juga awal dari fanatisme saya terhadap sastra Amerika Latin.
Saya merasa memiliki kemewahan tersendiri, ketika saat makan siang di sekolah (juga mencuri waktu saat pelajaran yang membosankan) saya habiskan dengan membaca koleksi lengkap karya Isabel Allende* milik perpustakaan sekolah saya. Sehingga saya bisa menyisihkan uang jajan saya untuk membeli koleksi novel-novel lainnya di toko buku bekas.
Hampir seluruh koleksi sastra Amerika Latin saya adalah buku bekas. Buku bekas bagi saya memiliki nilai-nilainya tersendiri. Misterius, rasa familiar yang dekat, bau debu yang lapuk, halaman menguning, sedikit rindu dan juga cerita akan sejarah perjalanannya. Sejarah akan pemilik sebelum-sebelumnya, negara-negara dimana ia menjelajah, catatan dan coretan di dalamnya. Saya memiliki satu novel dari Mo Yan (“Red Sorghum”) dengan catatan dari pemilik sebelumnya yang saya dapatkan di lapak buku bekas di Bangkok. Pemilik sebelumnya menulis bahwa ia beserta bukunya selamat dalam bencana tsunami di Phuket dan ia berharap pemilik berikutnya bisa menghargai semangat bertahannya (yang juga menjadi inti dari cerita novel tersebut). Saya membeli buku lapuk dengan halaman bergelombang, bau asin laut dan bahkan butiran pasir yang terselip di dalamnya ketika saya mulai membuka halamannya satu demi satu. Buku itu sekarang tersimpan dalam koleksi buku berharga saya. Saya akan mempertahankannya sampai mati.
Koleksi saya akan Marquez tentu saja dimulai dengan “Seratus Tahun Kesunyian (Cien años de soledad)” dan diakhiri dengan “Living to Tell the Tale (Vivir parla contarla)”. Saya masih menabung untuk judul yang terakhir “Memories of My Melancholy Whores (Memoria de mis putas tristes)” dan menyesali diri saya ketika tidak membeli copy pertama dalam bahasa Spanyol “Vivir parla contarla” di sebuah toko buku bekas di pinggiran Legian beberapa tahun yang lalu.
“Seratus Tahun Kesunyian” memberikan saya sensasi yang sama dan menghabiskan stamina yang sama ketika saya pertama kali membaca Alkitab dari halaman pertama sampai terakhir pada usia tujuh tahun. Tidak berlebihan memang jika banyak orang menganggapnya sebagai salah satu kitab yang wajib dibaca.
Dalam bayangan saya Amerika Latin adalah benua yang jauh. Hingga saat ini pun masih terasa jauh dari mimpi saya (juga jumlah uang tabungan saya) untuk suatu hari menginjakkan kaki saya disana dan berandai seperti Che Guevara menaiki motor mengelilingi benua itu. Jalan pintas terdekat saat ini adalah membuat sambal salsa, menengak tequila, mendengarkan lagu-lagu Victor Jara dan membaca ulang semua karya-karya Marquez. Saya memilih kedua yang terakhir.
Ingatan saya tertumbuk pada suatu naskah yang tersimpan dalam hard-disk saya ketika sore kemarin saya menemukan sebuah buku terjemahan Marquez di rak toko buku. Judul yang sama. Saya tidak menganggap itu sebagai sebuah kesialan, namun sebagai sebuah panggilan. Sebuah panggilan untuk terus menerjemahkan karya-karya Amerika Latin. Saya memutuskan untuk membagi naskah terjemahan tersebut. Sebuah novel pendek dari Marquez yang mereka ulang sebuah pembunuhan.
Saya selesai menerjemahkan “Chronicle of the Death Foretold (Crónica de una muerte anunciada)” kira-kira tahun 2006. Dan berulangkali gagal untuk diterbitkan, karena entah terlalu pendek atau pun kemalasan saya untuk mengejar penerbit. Terjemahan tersebut merupakan salah satu usaha saya untuk mengenal karya Marquez lebih dekat dan juga Amerika Latin. Lebih jauh lagi, mengenal negara saya sendiri yang dalam sejarahnya, sedikit banyak terjalin dengan Amerika Latin.
Bagaimana nama Djakarta muncul pada tembok-tembok kota Santiago, Chile sesaat sebelum kudeta militer melanda negara itu. Ketika di Indonesia sendiri tengah bergumul pasca kudeta militernya sendiri. Bagaimana bagi saya berjalan di tengah-tengah Kebun Raya Bogor mengingatkan saya bahwa Pablo Neruda pernah menghabiskan waktu yang sama di jalan-jalan yang sama, ketika ia menjadi Duta Besar bagi Chile pada masa Hindia Belanda. Bagi saya sejarah bukanlah kebetulan. Interkoneksitas sejarah adalah sesuatu yang tak terhindarkan.
Salah satu dosen sejarah favorit saya mengatakan bahwa membaca sastra adalah seperti membaca filsafat tanpa beban yang diembannya. Seorang guru besar favorit saya yang lain mengatakan untuk menjadi seorang intelektual yang baik, seseorang harus menguasai pembacaan teori dan juga sastra dalam skala berimbang. Saya ingin menariknya lebih dalam, membaca sastra bagi saya adalah seperti membaca kehidupan. Baik pribadi, masyarakat, negara maupun sejarah. Sastra membuat saya banyak berefleksi dan menemukan banyak wajah disana. Sebuah karya sastra yang baik adalah karya-karya yang dapat menimbulkan beragam imaji dalam proses pembacaannya dan juga intepretasi. Semakin banyak interpretasi, semakin karya itu menjadi lengkap.
Bagi saya pribadi karya-karya sastra Amerika Latin melengkapi diri saya sebagai penulis. Sebagai sebuah refleksi akan kenyataan hidup saya di Indonesia, lengkap dengan carut marut sejarahnya dan kompleksitas masyarakatnya yang absurd. Beberapa hari yang lalu saya membaca puisi Victor Jara dan kembali tergugat untuk menerjemahkannya. Saya menghabiskan satu malam menerjemahkan kata per kata dari bahasa Spanyol (yang membuat saya berpikir untuk segera mengambil kursus bahasa Spanyol) dan menyetel lagu-lagu Victor Jara. Membayangkan bagaimana perasaannya ketika ia mengurat kata-kata itu sesaat sebelum ia diberondong senapan mesin tentara. Yang membuat saya sedikit berharap adalah ketika tahun 2009 kemarin, mereka berhasil mengadili pembunuhnya. Mereka ulang peristiwa pembunuhannya dan menemukan keadilan.
Saya membayangkan jika suatu hari Indonesia akan cukup dewasa, kita akan cukup dewasa untuk mereka ulang siapa yang membunuh Tan Malaka dan bagaimana cara Wiji Thukul mati. Juga orang-orang lainnya yang telah dihilangkan dengan paksa dari sejarah bangsa kita dengan hanya meninggalkan nama atau bahkan kebanyakan tanpa nama yang tersisa. Mengadili para pembunuh mereka, bukan hanya pelakunya tetapi juga orang-orang yang bertanggungjawab dan memerintahkan semua hal ini terjadi. Saya ingin tetap berharap pada bayangan itu.
Hal ini memacu saya, untuk menemukan lebih banyak naskah-naskah Amerika Latin untuk saya terjemahkan dan tentu saja sebaliknya, naskah-naskah sastra Indonesia (yang saya anggap layak) untuk saya terjemahkan ke dalam bahasa Inggris (dan juga mungkin suatu hari bahasa Spanyol). Saya berjanji kepada diri saya untuk tetap mengasah kemampuan berbahasa saya dan juga tetap bersemangat untuk menulis karya-karya saya sendiri. Karena menulis sebagaimana saya mengutip Milan Kundera adalah sebuah usaha untuk mengingat, melawan lupa.
Rumah Putih - Nitiprayan, 20 Februari 2010
Catatan:
*Isabel Allende, seorang penulis Chile favorit saya selain Pablo Neruda dan Victor Jara, merupakan salah satu keponakan presiden Marxis terpilih pertama Chile, Salvador Allende, yang terbunuh dalam kudeta militer pada tanggal 11 September 1973.
-
astridreza posted this




